Wednesday, 14 December 2016

NHW3_Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah



A.      Surat Cinta untuk Suami


Dear Cinta Honey..

Hidup berumah tangga ternyata tak sesimple yang ku kira dulu..

Mengenal dan dekat denganmu 7 tahun lebih sebelum menikah bukanlah jaminan, bahwa kita sudah saling mengerti, memahami dan menerima semua sifat yang kita miliki. Karna benar ternyata, kehidupan yang sebenarnya di mulai ketika kita memulai berumah tangga. Tapi yang aku syukuri adalah, bahwa 7 tahun itu menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagi kehidupan kita saat ini.
Sejak awal mengenalmu, entahlah? Aku sudah begitu yakin bahwa kau kelak akan menjadi imamku. aku yakin, kau yang bisa mengerti dan membuatku menjadi lebih baik. Karna buatku, dengan usia yang masih muda tapi sudah memiliki pandangan, dan visi misi hidup kita kelak. Ah.. kalau mengingat masa itu rasanya jadi jatuh cinta lagi.

Alhamdulillah, setelah menikah Allah memberi kita bonus waktu 3 tahun untuk lebih saling mengenal dan memantapkan visi misi dalam berumah tangga, sampai akhirnya amira lahir. Bagiku 3 tahun itu adalah sangat berkesan dan berpengaruh dalam kehidupan kita saat ini.
Semenjak kita menikah Kau berubah, tak seperti Amin yang ku kenal dulu. Begitupun pendapat teman-teman kuliah kita.

Kau berubah menjadi sosok yang membuatku makin jatuh hati dan bersyukur karna Allah mengirim mu menjadi imamku. Kau yang membuatku lebih dewasa, lebih dekat dengan Nya, lebih percaya diri, dan Membuatku sangat berarti.

Keinginanmu agar aku tidak bekerja ternyata adalah bentuk kasih sayangmu, yang tak menginginkan pikiran dan tenagaku dihabiskan di tempat kerja. Itu adalah bentuk penghormatanmu kepad istri agar dapat meraih syurga cukup dari rumah.

Say..
Terima kasih, selama ini menerima semua kekuranganku, mendengarkan keluh kesahku dan rela menyantap masakan yang selalu asin tanpa komplain hihihi...
Doa ku, semoga Allah senantias memberikan kesehatan dan kesempatan yang luas untukmu. Agar dapat terus istikomah berkarya, berdakwah dan memberikan manfaat bagi banyak orang.

Kini, di usia pernikahan kita yang hampir 7  tahun, segala perbedaan, perdebatan dan masalah yang kita hadapi dulu adalah pelajaran yang sangat berharga. Yang membuat kita lebih dewasa, lebih saling mengenal dan mamahami kepribadian kita masing-masing. 7 tahun yang membuat kita semakin yakin akan visi misi yang kita bangun sejak awal menikah.

Semoga Allah kelak mempertemukan kita dan anak-anak di syurga nya.
Sungguh, Allah maha baik yang sudah menghadirkanmu dalam kehidupanku.

I love u..

Honey


B.      Potensi Anak-anak

Anak pertama kami Amirah Khadijah Mahardhika, lahir tepat di hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 3 tahun lalu. Dia anak yang supel dan mudah bergaul, serta suka tampil di depan sepertinya menuruni sifat ayah nya. Anaknya banyak gerak dan punya energi lebih menurut saya. Loncat sana sini, naik ini itu, coret-coret, gunting-gunting ga ada capeknya, yang ada si ibu yang capek beresin rumah hihihi... 
Amira juga suka sekali didapur, malah biasanya dia yang minta saya membuat sesuatu. Tapi sayangnya suka bikin tapi ga suka makan, itulah yang kadang membuat saya sedih. Ini nih PR besar saya agar amira mau makan teratur dan juga ngemil, soalnya selama ini Cuma doyan susu. Sampai dia bilang ga mau sekolah, mau di rumah aja sama ibu biar bisa tetep minum susu hahaha.. duh anak ini emang bikin gemes.
Tapi sebenernya dia anak yang penyayang dan juga suka berbagi, ga pelit kalau soal minjemin mainan atau berbagi makanan ke teman bahkan yang baru ketemu.

Anak kedua kami bernama Nabila Hajar Syarifah, lahir tepat di hari HUT PGRI tanggal 25 November setahun yang lalu. Lagi lucu-lucunya nih dek nabila..
Kata tetangga sih susah senyum, sama orang yang belum biasa dilihatnya. Sampai mereka buat challenge siapa yang bisa bikin nabila ketawa hahaha... ada-ada aja yah?.
Menurut saya nabila ini anaknya lebih anteng dan mau mengalah sama kakaknya. Ga rewel, dan makan lebih gampang. Semoga selalu sehat dan jadi anak sholihah ya nak..

C.      Potensi diri

Saya ini tipe termasuk orang yang pemalu dan tidak mudah bergaul, sangat jauh berbeda dengan suami. Itu yang kadang membuat suami saya gemes, karena tidak bisa memulai pembicaraan dengan orang yang baru. Kalau kata dia sih “nek ga di tutuk, ra muni” (kalau ga di pukul ga bunyi) maksudnya kalau ga di tanya duluan ga njawab.
Saya memang kurang suka tampil di depan, lebih suka “ bermain” di belakang panggung.  Hal itulah yang membuat saya enjoy menjadi penyiar radio di jaman masih kuliah dan bekerja sebagai call center officer di sebuah bank.
Saya sebenarnya suka berhubungan dengan banyak orang dan bahagia ketika berkontribusi bagi orang lain. Saya juga suka memperhatikan orang kemudian menjadikan bahan diskusi dengan suami untuk diambil sebuah hikmah.
Mungkin karna itulah, Allah memasangkan saya dengan suami yang suka tampil di depan, dan menjadikan saya “managernya”. Seperti sebelum kami memiliki anak, saya bahagia sekali ketika bisa menjadi ” manager” sekaligus asistennya dalam bekerja.
Kata suami sih, saya termasuk orang yang sabar dan ngga neko-neko. Memang saya paling tidak suka berdebat, lebih sering mengalah dan menghindari konflik. Semua itu saya jadikan bekal dalam mendidik anak agar tidak lekas terbawa emosi dengan polah tingkah mereka. Karena memiliki anak dengan tipe “kinestetik” itu perlu stok sabar yang banyak.
Sebenarnya saya juga suka menulis, meskipun banyak tulisan yang masih di draf karena kurang pd untuk publish di blog. Tapi saya punya impian bisa memiliki tulisan (di buku/ blog) yang isinya berkaitan dengan parenting dan pendidikan anak serta bisa bermanfaat untukorang lain.

D.      Lingkungan tempat tinggal

Alhamdulillah saat ini kami tinggal di rumah kontrakan yang sudah kami huni hampir 7 tahun dengan lingkungan yang baik dan aman. Ngontrak 7 tahun? Ya, memang saat ini kami masih mengontrak karena tidak ingin terkena RIBA, jadi kami memilih mengontrak sambil mengumpulkan uang agar bisa membeli rumah dengan Cash aamiin...
Alhamdulillah, meskipun statusnya baru rumah kontrakan tapi kami bersyukur karena mendapat rumah yang bersebelahan dengan masjid sesuai harapan kami. Karena dengan dekat masjid, maka tidak ada alasan untuk tidak berjamaah di masjid ( untuk suami).
Meskipun kami bukan warga tetap, warga disana  memperlakukan kami seperti warga yang tetap yang memiliki rumah sendiri. saya masih di beri kesempatan untuk berkontribusi dengan menjadi ketua PKB RW di lingkungan tempat saya tinggal. Buat saya itu adalah suatu penghormatan dan juga kesempatan untuk bisa memberikan sedikit ilmu yang saya miliki berkaitan dengan parenting dan pengasuhan anak kepada kader minimal sebulan sekali.
Suami, masih di beri kesempatan untuk sedikit berbagi ilmu, dengan mengisi pengajian-pengajian ataupun khutbah jum’at di lingkungan tempat kami tinggal.
Tetangga pun sudah seperti keluarga sendiri, meskipun saya dan suami sama-sama perantau dan tidak memiliki saudara tapi rasanya seperti tinggal dengan keluarga. Seperti saat saya melahirkan anak pertama dan kedua, tetangga yang menunggui dan juga mengurus syukuran kelahiran (brokohan) dan menggali untuk menanam tali pusar bayi. Mereka pun tidak segan saling berbagi makanan, bahkan ketika saya hamil muda dan tidak masak, tak jarang tetangga mengantarkan makanan untuk kami.

Peran Spesifik keluarga.

Dari apa yang sudah saya tulis di atas, rasanya saya makin mengerti dan menemukan sebenarnya apa peran spesifik keluarga kami di muka bumi ini?
Saya merasa Allah mempertemukan saya dan suami, dengan kepribadian yang berbeda dengan tujuan untuk saling melengkapi. Mungkin Allah mendesain kami : suami tampil secara langsung untuk berbagi ilmu dengan tujuan membuat mereka menjadi insan yang lebih baik, lebih beriman, lebih produktif dan bermanfaat untuk lingkungan. Sedangkan saya, mendukung karir dan juga amanah yang diemban suami di “belakang panggung” , mensupportnya dari segi materi dan menjadi komentatornya.

Memang saya tidak suka dan berani tampil di depan banyak orang, tapi saat ini saya sedang belajar agar bisa tetap berkontribusi meskipun hanya di “ belakang panggung”. saya juga sedang belajar berani tampil di depan banyak orang agar bisa berbagi ilmu yang saya miliki terutama yang berkaitan dengan parenting dn pengasuhan anak.
Berada di lingkungan dekat dengan masjid dan menjadi istri dari suami yang kini di panggil “ ustadz” merupakan pecut buat saya, agar lebih giat mendalami ilmu-ilmu allah, serta menjadi pribadi yang lebih baik, sehingga bisa menjadi panutan buat anak-anak dan muslimah yang baik bagi masyarakat.

 #NHW3_Adehermawati_Semarang.

Tulisan ini dibuat sebagai tugas mingguan dalam program remidial Matrikulasi batch 3 Instiut Ibu Profesional.

No comments:

Post a Comment

Share