Sunday, 30 October 2016

NHW#2_Menjadi ibu profesional kebanggan keluarga.



Menjadi istri yang sholihah dambaan suami, suri tauladan dan ibu yang menyenangkan buat anak-anak dan muslimah yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat adalah impian dan salah satu tujuan hidup saya. Ya, menjadi ibu profesional kebanggan keluarga adalah sebuah pencapaian yang ingin saya raih setelah menjadi seorang istri dan ibu. Apa itu ibu profesional dan bagaimana caranya untuk menjadi seorang ibu profesional kebanggan keluarga?

saya rasa sebagian besar perempuan yang telah menikah juga memiliki cita-cita dan tujuan hidup yang sama seperti saya, menjadi ibu profesional seperti yang saya sebutkan. Tapi kenyataannya tidak sedikit pasangan yang “berpaling” karena merasa sang istri tidak seperti yang diharapkannya. Banyak juga anak-anak yang lebih mengidolakan orang lain dibanding ibunya yang dianggap galak dan posesif. atau muslimah yang tidak disukai masyarakat sekitar karena kepribadiannya yang kurang baik. Lalu bagaimana caranya agar bisa menjadi seorang ibu profesional yang tidak hanya menjadi kebanggan keluarga, tapi juga masyarakat?

Ibu profesional

Ibu profesional adalah seorang perempuan yang bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Serta senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Untuk menjadi seorang ibu profesional, ada 4 tahapan yang harus dilalui yaitu:

1.       Bunda Sayang : ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anak.
2.       Bunda Cekatan : ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3.       Bunda Produktif : ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya dimuka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga.
4.       Bunda saliha: ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

Indikator keberhasilan ibu profesional.

Menjadi kebanggan keluarga, merupakan tolak ukur seorang ibu telah menjadi ibu profesional. Lalu siapa yang menilai? Tentu saja anggota keluarga inti yaitu suami dan juga anak-anak. Masing-masing keluarga memiliki tolak ukur yang berdeda-beda dalam menilai profesionalisme seorang ibu. Oleh karena itu perlu adanya indikator yang dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan ibu profesional.

Kunci dalam membuat indikator itu adalah SMART, yaitu:
1    Spesifik (unik/dettil)
   2.  Measurable (terukur)
3   Achievable (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
4    Realistic (berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
5  TimeBond (berikan batas waktu).

Saya sendiri selama ini sudah memiliki agenda dengan suami untuk saling koreksi dan menyatukan visi misi dalam berkeluarga setahun yang kami sebut dengan”Raker Keluarga”. Dalam raker tersebut ada 7 aspek dalam area kehidupan yang kita diskusikan sebagai proyek satu tahun kedepan. salah satu aspeknya Keluarga yaitu mengenai hubungan antar suami istri, apakah kita sudah menjadi seorang istri/suami dambaan pasangan?. Lalu apakah sudah menjadi orang tua yang menyenangkan untuk anak dan menjadi teladan yang baik untuk anak.

Selain itu kita juga mendiskusikan mengenai aspek sosial, yang membahas sejauhmana peran atau kontribusi yang sudah kita berikan kepada masyarakat dan sudah kan kita menjadi individu yang baik.
Pas sekali dengan tema matrikulasi minggu ini yang membahas mengenai indikator profesionalisme baik sebagai seorang individu, istri dan ibu. Untuk saya sendiri indikator-indikatornya antara lain:

Indikator Profesionalisme Perempuan

A. Indikator sebagai seorang individu
No
Indikator
1
Sholat wajib diawal waktu
2
sholat qobliyah dan ba'diyah
3
Sholat tahajut, tobat & hajat setiap malam
4
Sholat Dhuha + baca surat Waqih dan Ar Rahman
5
keluar rumah memakai jilbab
6
Membaca Alqur'an dan Terjemahnya mininal 1 'ain
7
Membuat nasi bungkus minimal 2 bungkus tiap pagi
8
Membaca buku minimal 10 menit
9
menulis artikel parenting di blog minimal 1 artikel / minggu
10
memberi informasi tentang parenting maupun tips

bermanfaat di pertemuan (PKB) RW




















B. INDIKATOR SEBAGAI SEORANG ISTRI

NO.
Indikator
1
berpenampilan rapi, bersih dan wangi (7 to7)
2
Menghidangkan makanan sehat yang berfariasi
3
menyiapkan pakaian dan keperluan suami sebelum bekerja
4
menyambut suami dgn senyum meski pulang tengah malam
5
tidak mengeluh tentang anak-anak kepada suami
6
siap jadi pendengar dan teman sharing setiap saat
7
evalusi dan meeting keluarga seminggu sekali



C. INDIKATOR SEBAGAI SEORANG IBU


NO.
Indikator
1
Membiasakan bangun pagi ketika subuh
2
tidak minum susu sebelum makan
3
no gadget ketika bermain dengan anak
4
beri 1 permainan setiap hari
5
one day one story
6
mengkondisikan tidur sebelum jam 9 malam
7
muroja'ahmenjelang tidur/ minimal sehari sekali
8
belajar sholat bersama ibu
9
anak-anak tidur siang minimal 1 jam
10
fun cooking seminggu sekali
11
belajar di luar rumah seminggu sekali
12
bersabar ketika anak tantrum


Dari indikator-indikator tersebut dijalankan selama sebulan pertama, kemudian akan dievaluasi bersama hasilnya bersama suami dan anak-anak. Bulan berikutnya tinggal menambahi jika ada yang perlu diperbaiki atau terus dijalankan jika memang belum maksimal.

Harapan saya semoga dengan adanya checklist indikator profesionalisme perempuan ini, dapat menjadi suatu ikhtiar saya dan keluarga demi mewujudkan keluarga yang bahagia Sakinah, Mawadah, dan Warahmah.
Buat anda yang ingin menjadi ibu profesional kebanggan keluarga, tidak ada salahnya mulai saat ini juga membuat checklist indikator profesionalisme disesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing.
Semoga bermanfaat.

#NHW2_Adehermawati_Semarang.

Tulisan ini dibuat sebagai tugas mingguan dalam program remidial Matrikulasi 2 Instiut Ibu Profesional.




Sunday, 23 October 2016

NHW#1_Adab Menuntut Ilmu



Life is a choise, hidup adalah pilihan. Dalam hidup kita bebas memilih apapun termasuk memilih pasangan, pekerjaan maupun passion yang ingin di tekuni.
Jurusan ilmu yang akan dikekuni.
Setelah menikah, saya mutuskan untuk meninggalkan pekerjaan dan memilih fokus menunaikan tugas sebagai seorang istri dan juga ibu. Saya memilih menekuni ilmu parenting, sebagai bekal agar dapat menjadi istri sholihah untuk suami, ibu dan tauladan yang baik untuk anak anak dan muslimah yang bermanfaat untuk masyarakat.
Selain itu saya juga suka menulis, dan ingin kelak tulisan saya bisa menginspirasi orang lain.
Alasan menekuni ilmu tersebut.
Seperti sebuah hadist "jika ingin bahagia di dunia, maka milikilah ilmu. Jika ingin bahagia di akhirat, milikilah ilmu. Dan jika ingin bahagia didunia dan akhirat maka milikilah ilmu". Salah satu tujuan hidup kita adalah ingin bahagia, di dunia dan akhirat. Menurut hadist tersebut kita perlu memiliki ilmu jika ingin bahagia, tentu saja ilmu tersebut berkaitan dengan apa yang kita tekuni. Teringat ucapan bu Septi, jika sesuatu dikerjakan tanpa ilmu, maka tunggulah kehancurannya.
Karena saya ingin menekuni dunia parenting, maka saya harus belajar ilmu tentang ilmu tersebut.
Selain itu, karena saya sudah sadar akan fitrah sebagai seorang istri yang harus bisa menjadi manajer rumah tangga terbaik. Fitrah ibu sebagai guru dan teladan utama bagi anak-anak. Dan fitrah sebagai mahluk sosial yang ingin berkontribusi bagi masyarakat.
Keterbatasan gerak dan waktu karena masih memiliki dua balita aktif, membuat saya ingin tetap berkarya n berkontribusi tanpa meninggalkan tugas utama yaitu dengan menulis. Karena menurut saya, menulis itu adalah terapi jiwa, dengan menulis kita bisa mengungkapkan segala perasaan, berbagi ilmu tanpa terbatas jarak dan waktu. Hingga nanti meski suatu saat sudah meninggal, tulisan kita tetap bisa dibaca siapapun dan dimanapun.
Tanpa memiliki ilmu, rasanya semua itu sangat jauh dari kata "tercapai".
Strategi menuntut ilmu yang akan direncanakan.
Belajar dari buku - buku, seminar maupun pelatihan, bahkan bergabung di komunitas parenting adalah beberapa cara saya dalam belajar parenting.
Selain itu, saya juga suka berdiskusi dengan suami mengenai metode apa yang akan kita terapkan dalam rumah tangga dan pengasuhan anak.
Seperti kata suami "tau tapi tidak melakukan, sama juga tidak tau". Kalimat itu seolah cambuk bagi saya, karena selama ini terlalu asyik belajar tapi minim mempraktekkannya.
Kedepan saya ingin lebih fokus belajar, kemudian coba diterapkan. Setelah itu evaluasi sesuai atau tidak dengan kondisi keluarga atau anak dan kemudian belajar lagi.
Selama proses itu, saya ingin share lewat tulisan. Sebagai catatan perjalanan hidup, agar kelak bisa di baca anak-anak maupun orang lain. Siapa tau bisa menambah wawasan dan menginspirasi orang banyak.
Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap yang ingin diperbaiki.
Dalam universitas kehidupan, kita dikatakan lulus jika sudah menyandang gelar almarhum/almarhumah, Saya ingin ketika menyandang gelar tersebut  mendapat nilai A. Maka dari itu, terus belajar, tidak keburu merasa sudah tau dan mau belajar dari berbagai sumber yang terpercaya adalah hal yang ingin saya pertahankan.
Kalau dulu saya mengambil ilmu dari berbagai sumber, saat ini akan saya pilih yang sesuai dengan alqur'an, hadist dan syariat islam. Bersikap skeptis ,Tidak asal share suatu informasi ke khalayak umum tanpa tabayyun terlebih dahulu.
Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah kita untuk terus belajar.


NHW#1_Ade Hermawati_Semarang

Share