Wednesday, 14 December 2016

NHW4_ MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FIITRAH



Di tugas ke 4 ini, saya kembali diingatkan dan dituntut menelaah kembali tugas yang telah dibuat sebelumnya, apakah setelah berjalan beberapa minggu ada perubahan atau tidak.
A.      Sesuai dengan #NHW1, sampai dengan saat ini saya masih tetap memilih jurusan ilmu yang akan di tekuni di universitas kehidupan ini adalah parenting, sebagai bekal agar dapat menjadi istri sholihah untuk suami, ibu dan tauladan yang baik untuk anak anak dan muslimah yang bermanfaat untuk masyarakat. 
Selain itu saya juga suka menulis, dan ingin kelak tulisan saya bisa menginspirasi orang lain.

B.      Alhamdulillah, masih berusaha konsisten dalam mengerjakan dan mengisi check list seperti yang terdapat dalam #NHW2.  Karena hal itu menjadi pecut dan ukuran penyemangat untuk mamantaskan diri.

C.      Hasil perenungan dari #NHW3 maka:
Misi hidup saya: menjadi istri sholihah untuk suami, tauladan yang baik untuk anak-anak dan muslimah yang bermanfaat bagi masyarakat.
Bidang :  pendidikan ibu dan Anak
Peran : Inspirator
tahapan ilmu yang harus dikuasai oleh sebagai berikut :
1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri, rumah tangga, kepenulisan
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang.

D.     Milestone untuk memandu setiap perjalanan menjalankan Misi Hidup
Milestone  yang ditetapkan adalah sbb  :
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha

E.      Koreksi kembali checklist di NHW#2
Menurut saya sampai dengan saat ini check list sudah masuk, tapi dengan berjlannya waktu tidak menutup kemungkinan bisa berubah.

F.       So, sekarang saatnya lakukan, lakukan, lakukan, lakukan.
Bismillah.. dengan memohon rahmat Allah, semoga apa yang di harapkan dapat terlaksana dan berjalan dengan baik. Aaamiin...


#NHW4_Adehermawati_Semarang.

Tulisan ini dibuat sebagai tugas mingguan dalam program remidial Matrikulasi #3 Instiut Ibu Profesional

NHW3_Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah



A.      Surat Cinta untuk Suami


Dear Cinta Honey..

Hidup berumah tangga ternyata tak sesimple yang ku kira dulu..

Mengenal dan dekat denganmu 7 tahun lebih sebelum menikah bukanlah jaminan, bahwa kita sudah saling mengerti, memahami dan menerima semua sifat yang kita miliki. Karna benar ternyata, kehidupan yang sebenarnya di mulai ketika kita memulai berumah tangga. Tapi yang aku syukuri adalah, bahwa 7 tahun itu menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagi kehidupan kita saat ini.
Sejak awal mengenalmu, entahlah? Aku sudah begitu yakin bahwa kau kelak akan menjadi imamku. aku yakin, kau yang bisa mengerti dan membuatku menjadi lebih baik. Karna buatku, dengan usia yang masih muda tapi sudah memiliki pandangan, dan visi misi hidup kita kelak. Ah.. kalau mengingat masa itu rasanya jadi jatuh cinta lagi.

Alhamdulillah, setelah menikah Allah memberi kita bonus waktu 3 tahun untuk lebih saling mengenal dan memantapkan visi misi dalam berumah tangga, sampai akhirnya amira lahir. Bagiku 3 tahun itu adalah sangat berkesan dan berpengaruh dalam kehidupan kita saat ini.
Semenjak kita menikah Kau berubah, tak seperti Amin yang ku kenal dulu. Begitupun pendapat teman-teman kuliah kita.

Kau berubah menjadi sosok yang membuatku makin jatuh hati dan bersyukur karna Allah mengirim mu menjadi imamku. Kau yang membuatku lebih dewasa, lebih dekat dengan Nya, lebih percaya diri, dan Membuatku sangat berarti.

Keinginanmu agar aku tidak bekerja ternyata adalah bentuk kasih sayangmu, yang tak menginginkan pikiran dan tenagaku dihabiskan di tempat kerja. Itu adalah bentuk penghormatanmu kepad istri agar dapat meraih syurga cukup dari rumah.

Say..
Terima kasih, selama ini menerima semua kekuranganku, mendengarkan keluh kesahku dan rela menyantap masakan yang selalu asin tanpa komplain hihihi...
Doa ku, semoga Allah senantias memberikan kesehatan dan kesempatan yang luas untukmu. Agar dapat terus istikomah berkarya, berdakwah dan memberikan manfaat bagi banyak orang.

Kini, di usia pernikahan kita yang hampir 7  tahun, segala perbedaan, perdebatan dan masalah yang kita hadapi dulu adalah pelajaran yang sangat berharga. Yang membuat kita lebih dewasa, lebih saling mengenal dan mamahami kepribadian kita masing-masing. 7 tahun yang membuat kita semakin yakin akan visi misi yang kita bangun sejak awal menikah.

Semoga Allah kelak mempertemukan kita dan anak-anak di syurga nya.
Sungguh, Allah maha baik yang sudah menghadirkanmu dalam kehidupanku.

I love u..

Honey


B.      Potensi Anak-anak

Anak pertama kami Amirah Khadijah Mahardhika, lahir tepat di hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 3 tahun lalu. Dia anak yang supel dan mudah bergaul, serta suka tampil di depan sepertinya menuruni sifat ayah nya. Anaknya banyak gerak dan punya energi lebih menurut saya. Loncat sana sini, naik ini itu, coret-coret, gunting-gunting ga ada capeknya, yang ada si ibu yang capek beresin rumah hihihi... 
Amira juga suka sekali didapur, malah biasanya dia yang minta saya membuat sesuatu. Tapi sayangnya suka bikin tapi ga suka makan, itulah yang kadang membuat saya sedih. Ini nih PR besar saya agar amira mau makan teratur dan juga ngemil, soalnya selama ini Cuma doyan susu. Sampai dia bilang ga mau sekolah, mau di rumah aja sama ibu biar bisa tetep minum susu hahaha.. duh anak ini emang bikin gemes.
Tapi sebenernya dia anak yang penyayang dan juga suka berbagi, ga pelit kalau soal minjemin mainan atau berbagi makanan ke teman bahkan yang baru ketemu.

Anak kedua kami bernama Nabila Hajar Syarifah, lahir tepat di hari HUT PGRI tanggal 25 November setahun yang lalu. Lagi lucu-lucunya nih dek nabila..
Kata tetangga sih susah senyum, sama orang yang belum biasa dilihatnya. Sampai mereka buat challenge siapa yang bisa bikin nabila ketawa hahaha... ada-ada aja yah?.
Menurut saya nabila ini anaknya lebih anteng dan mau mengalah sama kakaknya. Ga rewel, dan makan lebih gampang. Semoga selalu sehat dan jadi anak sholihah ya nak..

C.      Potensi diri

Saya ini tipe termasuk orang yang pemalu dan tidak mudah bergaul, sangat jauh berbeda dengan suami. Itu yang kadang membuat suami saya gemes, karena tidak bisa memulai pembicaraan dengan orang yang baru. Kalau kata dia sih “nek ga di tutuk, ra muni” (kalau ga di pukul ga bunyi) maksudnya kalau ga di tanya duluan ga njawab.
Saya memang kurang suka tampil di depan, lebih suka “ bermain” di belakang panggung.  Hal itulah yang membuat saya enjoy menjadi penyiar radio di jaman masih kuliah dan bekerja sebagai call center officer di sebuah bank.
Saya sebenarnya suka berhubungan dengan banyak orang dan bahagia ketika berkontribusi bagi orang lain. Saya juga suka memperhatikan orang kemudian menjadikan bahan diskusi dengan suami untuk diambil sebuah hikmah.
Mungkin karna itulah, Allah memasangkan saya dengan suami yang suka tampil di depan, dan menjadikan saya “managernya”. Seperti sebelum kami memiliki anak, saya bahagia sekali ketika bisa menjadi ” manager” sekaligus asistennya dalam bekerja.
Kata suami sih, saya termasuk orang yang sabar dan ngga neko-neko. Memang saya paling tidak suka berdebat, lebih sering mengalah dan menghindari konflik. Semua itu saya jadikan bekal dalam mendidik anak agar tidak lekas terbawa emosi dengan polah tingkah mereka. Karena memiliki anak dengan tipe “kinestetik” itu perlu stok sabar yang banyak.
Sebenarnya saya juga suka menulis, meskipun banyak tulisan yang masih di draf karena kurang pd untuk publish di blog. Tapi saya punya impian bisa memiliki tulisan (di buku/ blog) yang isinya berkaitan dengan parenting dan pendidikan anak serta bisa bermanfaat untukorang lain.

D.      Lingkungan tempat tinggal

Alhamdulillah saat ini kami tinggal di rumah kontrakan yang sudah kami huni hampir 7 tahun dengan lingkungan yang baik dan aman. Ngontrak 7 tahun? Ya, memang saat ini kami masih mengontrak karena tidak ingin terkena RIBA, jadi kami memilih mengontrak sambil mengumpulkan uang agar bisa membeli rumah dengan Cash aamiin...
Alhamdulillah, meskipun statusnya baru rumah kontrakan tapi kami bersyukur karena mendapat rumah yang bersebelahan dengan masjid sesuai harapan kami. Karena dengan dekat masjid, maka tidak ada alasan untuk tidak berjamaah di masjid ( untuk suami).
Meskipun kami bukan warga tetap, warga disana  memperlakukan kami seperti warga yang tetap yang memiliki rumah sendiri. saya masih di beri kesempatan untuk berkontribusi dengan menjadi ketua PKB RW di lingkungan tempat saya tinggal. Buat saya itu adalah suatu penghormatan dan juga kesempatan untuk bisa memberikan sedikit ilmu yang saya miliki berkaitan dengan parenting dan pengasuhan anak kepada kader minimal sebulan sekali.
Suami, masih di beri kesempatan untuk sedikit berbagi ilmu, dengan mengisi pengajian-pengajian ataupun khutbah jum’at di lingkungan tempat kami tinggal.
Tetangga pun sudah seperti keluarga sendiri, meskipun saya dan suami sama-sama perantau dan tidak memiliki saudara tapi rasanya seperti tinggal dengan keluarga. Seperti saat saya melahirkan anak pertama dan kedua, tetangga yang menunggui dan juga mengurus syukuran kelahiran (brokohan) dan menggali untuk menanam tali pusar bayi. Mereka pun tidak segan saling berbagi makanan, bahkan ketika saya hamil muda dan tidak masak, tak jarang tetangga mengantarkan makanan untuk kami.

Peran Spesifik keluarga.

Dari apa yang sudah saya tulis di atas, rasanya saya makin mengerti dan menemukan sebenarnya apa peran spesifik keluarga kami di muka bumi ini?
Saya merasa Allah mempertemukan saya dan suami, dengan kepribadian yang berbeda dengan tujuan untuk saling melengkapi. Mungkin Allah mendesain kami : suami tampil secara langsung untuk berbagi ilmu dengan tujuan membuat mereka menjadi insan yang lebih baik, lebih beriman, lebih produktif dan bermanfaat untuk lingkungan. Sedangkan saya, mendukung karir dan juga amanah yang diemban suami di “belakang panggung” , mensupportnya dari segi materi dan menjadi komentatornya.

Memang saya tidak suka dan berani tampil di depan banyak orang, tapi saat ini saya sedang belajar agar bisa tetap berkontribusi meskipun hanya di “ belakang panggung”. saya juga sedang belajar berani tampil di depan banyak orang agar bisa berbagi ilmu yang saya miliki terutama yang berkaitan dengan parenting dn pengasuhan anak.
Berada di lingkungan dekat dengan masjid dan menjadi istri dari suami yang kini di panggil “ ustadz” merupakan pecut buat saya, agar lebih giat mendalami ilmu-ilmu allah, serta menjadi pribadi yang lebih baik, sehingga bisa menjadi panutan buat anak-anak dan muslimah yang baik bagi masyarakat.

 #NHW3_Adehermawati_Semarang.

Tulisan ini dibuat sebagai tugas mingguan dalam program remidial Matrikulasi batch 3 Instiut Ibu Profesional.

Sunday, 30 October 2016

NHW#2_Menjadi ibu profesional kebanggan keluarga.



Menjadi istri yang sholihah dambaan suami, suri tauladan dan ibu yang menyenangkan buat anak-anak dan muslimah yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat adalah impian dan salah satu tujuan hidup saya. Ya, menjadi ibu profesional kebanggan keluarga adalah sebuah pencapaian yang ingin saya raih setelah menjadi seorang istri dan ibu. Apa itu ibu profesional dan bagaimana caranya untuk menjadi seorang ibu profesional kebanggan keluarga?

saya rasa sebagian besar perempuan yang telah menikah juga memiliki cita-cita dan tujuan hidup yang sama seperti saya, menjadi ibu profesional seperti yang saya sebutkan. Tapi kenyataannya tidak sedikit pasangan yang “berpaling” karena merasa sang istri tidak seperti yang diharapkannya. Banyak juga anak-anak yang lebih mengidolakan orang lain dibanding ibunya yang dianggap galak dan posesif. atau muslimah yang tidak disukai masyarakat sekitar karena kepribadiannya yang kurang baik. Lalu bagaimana caranya agar bisa menjadi seorang ibu profesional yang tidak hanya menjadi kebanggan keluarga, tapi juga masyarakat?

Ibu profesional

Ibu profesional adalah seorang perempuan yang bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Serta senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Untuk menjadi seorang ibu profesional, ada 4 tahapan yang harus dilalui yaitu:

1.       Bunda Sayang : ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anak.
2.       Bunda Cekatan : ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3.       Bunda Produktif : ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya dimuka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga.
4.       Bunda saliha: ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

Indikator keberhasilan ibu profesional.

Menjadi kebanggan keluarga, merupakan tolak ukur seorang ibu telah menjadi ibu profesional. Lalu siapa yang menilai? Tentu saja anggota keluarga inti yaitu suami dan juga anak-anak. Masing-masing keluarga memiliki tolak ukur yang berdeda-beda dalam menilai profesionalisme seorang ibu. Oleh karena itu perlu adanya indikator yang dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan ibu profesional.

Kunci dalam membuat indikator itu adalah SMART, yaitu:
1    Spesifik (unik/dettil)
   2.  Measurable (terukur)
3   Achievable (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
4    Realistic (berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
5  TimeBond (berikan batas waktu).

Saya sendiri selama ini sudah memiliki agenda dengan suami untuk saling koreksi dan menyatukan visi misi dalam berkeluarga setahun yang kami sebut dengan”Raker Keluarga”. Dalam raker tersebut ada 7 aspek dalam area kehidupan yang kita diskusikan sebagai proyek satu tahun kedepan. salah satu aspeknya Keluarga yaitu mengenai hubungan antar suami istri, apakah kita sudah menjadi seorang istri/suami dambaan pasangan?. Lalu apakah sudah menjadi orang tua yang menyenangkan untuk anak dan menjadi teladan yang baik untuk anak.

Selain itu kita juga mendiskusikan mengenai aspek sosial, yang membahas sejauhmana peran atau kontribusi yang sudah kita berikan kepada masyarakat dan sudah kan kita menjadi individu yang baik.
Pas sekali dengan tema matrikulasi minggu ini yang membahas mengenai indikator profesionalisme baik sebagai seorang individu, istri dan ibu. Untuk saya sendiri indikator-indikatornya antara lain:

Indikator Profesionalisme Perempuan

A. Indikator sebagai seorang individu
No
Indikator
1
Sholat wajib diawal waktu
2
sholat qobliyah dan ba'diyah
3
Sholat tahajut, tobat & hajat setiap malam
4
Sholat Dhuha + baca surat Waqih dan Ar Rahman
5
keluar rumah memakai jilbab
6
Membaca Alqur'an dan Terjemahnya mininal 1 'ain
7
Membuat nasi bungkus minimal 2 bungkus tiap pagi
8
Membaca buku minimal 10 menit
9
menulis artikel parenting di blog minimal 1 artikel / minggu
10
memberi informasi tentang parenting maupun tips

bermanfaat di pertemuan (PKB) RW




















B. INDIKATOR SEBAGAI SEORANG ISTRI

NO.
Indikator
1
berpenampilan rapi, bersih dan wangi (7 to7)
2
Menghidangkan makanan sehat yang berfariasi
3
menyiapkan pakaian dan keperluan suami sebelum bekerja
4
menyambut suami dgn senyum meski pulang tengah malam
5
tidak mengeluh tentang anak-anak kepada suami
6
siap jadi pendengar dan teman sharing setiap saat
7
evalusi dan meeting keluarga seminggu sekali



C. INDIKATOR SEBAGAI SEORANG IBU


NO.
Indikator
1
Membiasakan bangun pagi ketika subuh
2
tidak minum susu sebelum makan
3
no gadget ketika bermain dengan anak
4
beri 1 permainan setiap hari
5
one day one story
6
mengkondisikan tidur sebelum jam 9 malam
7
muroja'ahmenjelang tidur/ minimal sehari sekali
8
belajar sholat bersama ibu
9
anak-anak tidur siang minimal 1 jam
10
fun cooking seminggu sekali
11
belajar di luar rumah seminggu sekali
12
bersabar ketika anak tantrum


Dari indikator-indikator tersebut dijalankan selama sebulan pertama, kemudian akan dievaluasi bersama hasilnya bersama suami dan anak-anak. Bulan berikutnya tinggal menambahi jika ada yang perlu diperbaiki atau terus dijalankan jika memang belum maksimal.

Harapan saya semoga dengan adanya checklist indikator profesionalisme perempuan ini, dapat menjadi suatu ikhtiar saya dan keluarga demi mewujudkan keluarga yang bahagia Sakinah, Mawadah, dan Warahmah.
Buat anda yang ingin menjadi ibu profesional kebanggan keluarga, tidak ada salahnya mulai saat ini juga membuat checklist indikator profesionalisme disesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing.
Semoga bermanfaat.

#NHW2_Adehermawati_Semarang.

Tulisan ini dibuat sebagai tugas mingguan dalam program remidial Matrikulasi 2 Instiut Ibu Profesional.




Sunday, 23 October 2016

NHW#1_Adab Menuntut Ilmu



Life is a choise, hidup adalah pilihan. Dalam hidup kita bebas memilih apapun termasuk memilih pasangan, pekerjaan maupun passion yang ingin di tekuni.
Jurusan ilmu yang akan dikekuni.
Setelah menikah, saya mutuskan untuk meninggalkan pekerjaan dan memilih fokus menunaikan tugas sebagai seorang istri dan juga ibu. Saya memilih menekuni ilmu parenting, sebagai bekal agar dapat menjadi istri sholihah untuk suami, ibu dan tauladan yang baik untuk anak anak dan muslimah yang bermanfaat untuk masyarakat.
Selain itu saya juga suka menulis, dan ingin kelak tulisan saya bisa menginspirasi orang lain.
Alasan menekuni ilmu tersebut.
Seperti sebuah hadist "jika ingin bahagia di dunia, maka milikilah ilmu. Jika ingin bahagia di akhirat, milikilah ilmu. Dan jika ingin bahagia didunia dan akhirat maka milikilah ilmu". Salah satu tujuan hidup kita adalah ingin bahagia, di dunia dan akhirat. Menurut hadist tersebut kita perlu memiliki ilmu jika ingin bahagia, tentu saja ilmu tersebut berkaitan dengan apa yang kita tekuni. Teringat ucapan bu Septi, jika sesuatu dikerjakan tanpa ilmu, maka tunggulah kehancurannya.
Karena saya ingin menekuni dunia parenting, maka saya harus belajar ilmu tentang ilmu tersebut.
Selain itu, karena saya sudah sadar akan fitrah sebagai seorang istri yang harus bisa menjadi manajer rumah tangga terbaik. Fitrah ibu sebagai guru dan teladan utama bagi anak-anak. Dan fitrah sebagai mahluk sosial yang ingin berkontribusi bagi masyarakat.
Keterbatasan gerak dan waktu karena masih memiliki dua balita aktif, membuat saya ingin tetap berkarya n berkontribusi tanpa meninggalkan tugas utama yaitu dengan menulis. Karena menurut saya, menulis itu adalah terapi jiwa, dengan menulis kita bisa mengungkapkan segala perasaan, berbagi ilmu tanpa terbatas jarak dan waktu. Hingga nanti meski suatu saat sudah meninggal, tulisan kita tetap bisa dibaca siapapun dan dimanapun.
Tanpa memiliki ilmu, rasanya semua itu sangat jauh dari kata "tercapai".
Strategi menuntut ilmu yang akan direncanakan.
Belajar dari buku - buku, seminar maupun pelatihan, bahkan bergabung di komunitas parenting adalah beberapa cara saya dalam belajar parenting.
Selain itu, saya juga suka berdiskusi dengan suami mengenai metode apa yang akan kita terapkan dalam rumah tangga dan pengasuhan anak.
Seperti kata suami "tau tapi tidak melakukan, sama juga tidak tau". Kalimat itu seolah cambuk bagi saya, karena selama ini terlalu asyik belajar tapi minim mempraktekkannya.
Kedepan saya ingin lebih fokus belajar, kemudian coba diterapkan. Setelah itu evaluasi sesuai atau tidak dengan kondisi keluarga atau anak dan kemudian belajar lagi.
Selama proses itu, saya ingin share lewat tulisan. Sebagai catatan perjalanan hidup, agar kelak bisa di baca anak-anak maupun orang lain. Siapa tau bisa menambah wawasan dan menginspirasi orang banyak.
Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap yang ingin diperbaiki.
Dalam universitas kehidupan, kita dikatakan lulus jika sudah menyandang gelar almarhum/almarhumah, Saya ingin ketika menyandang gelar tersebut  mendapat nilai A. Maka dari itu, terus belajar, tidak keburu merasa sudah tau dan mau belajar dari berbagai sumber yang terpercaya adalah hal yang ingin saya pertahankan.
Kalau dulu saya mengambil ilmu dari berbagai sumber, saat ini akan saya pilih yang sesuai dengan alqur'an, hadist dan syariat islam. Bersikap skeptis ,Tidak asal share suatu informasi ke khalayak umum tanpa tabayyun terlebih dahulu.
Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah kita untuk terus belajar.


NHW#1_Ade Hermawati_Semarang

Share